Rabu, 01 Februari 2017

Tak Terasa Sudah 3 Tahun Blog Ini Tak Kukunjungi

Entah kenapa....tetiba pagi ini ingin membuka blog ini....
Hmm....ternyata sudah 3 tahun lebih blog ini tidak kukunjungi dan update.
Terakhir kali tulisan yang kubuat adalah silaturahmi ke ibu dan bapak (beberapa hari sebelum bapak meninggal dunia).
Kusengaja membuka kembali catatan-catatan lamaku, untuk mengingatkan kembali niat awal melanjutkan studi S3 adalah agar dapat menjadi ladang amal ibadah
Qodarullah sampai hari ini belum juga kuselesaikan...
Yang salah bukan promotor atau copromotor bahkan bukan pula universitasnya,
namun yang salah adalah yang sedang menempuh studi ini yaitu saya sendiri.
Banyak hal yang tertunda karena semua ingin kukerjakan sendiri dengan sempurna....
Aku bukanlah superman ataupun super hero lainnya....
Kini meskipun telah menumpuk lama, bukan berarti tidak dapat diselesaikan...
Semua ada konsekuensinya.....
Dengan kesibukan bisnis yang sudah berkurang banyak, sudah semestinya studi ini bisa diselesaikan dengan tempo yang sesingat-singkatnya....
Semua bahan untuk ditulis ada.....data penelitian ada.....tinggal niat dan kemauan saja.....
Untuk mencapai titik sempurna seringkali menghambat pikiran sendiri
Serba tidak percaya diri dengan data yang ada.....
Padahal dalam dunia bisnis sering kali terlalu percaya diri...
Kenapa saya memilih studi S3 padahal lebih asyik dan memiliki passion di dunia bisnis?
Itulah tantangan yang saya pilih, ketika saya terbiasa membuat pola seperti menjalankan dunia bisnis ternyata tidak dapat diterapkan saat menempuh studi S3.
Buat saya, studi S3 adalah tantangan tersendiri tantangan untuk mensikronisasi diri agar melihat sesuatu dengan detail dan seksama....dengan sudut pandang kontribusi ilmiah yang berbeda bukan semata-mata untuk bisnis dan profit
Meskipun tertatih-tatih dan peluh bercucuran serta kantong kembang kempis (bayar spp melulu-red), semangat untuk finish till the end buat studiku kali ini harus sampai garis finish.
Mungkin inilah tantangan terbesarku saat ini yaitu melawan egoku sendiri untuk bercengkerama dengan journal, data-data penelitian dan analysis.....selanjutnya menuliskannya dalam bentuk karya ilmiah journal paper, proceeding dan disertasi.
Setiap orang punya tantangan sendiri-sendiri.....dan tiap orang tidaklah sama....
kadang kita yang mendatangi tantangan itu dan memilih...
Semoga ditahun 2017 ini, kudapat mempersembahkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi siapa pun yang akan mengaplikasikan...
Ingat 6 tahun yang lalu, Rekor MURI telah disematkan pada diriku.....alhamdulillah....
Jangan sampai dapat Rekor MURI gegara studi S3 terlama di UI.....naudzubillah....
Bismillahi tawakaltu alallahu...
Fii amanillah...

Next topik......"Fotodegradasi Sebagai Proses Sintesa untuk Alternatif Pengolahan Limbah dan Aplikasi Lainnya"


Jumat, 29 November 2013

Hanya kepada-Mu kami menyembah dan berserah diri

Selamat Pagi dari Kota Batik Yang Ada Megono-nya......
Hmm....kira-kira di kota mana ya? Ya, kota Pekalongan.
Trus kenapa ada embel-embel Megono segala ya?
Kalo kita nyebut Kota Batik, apakah iya hanya Pekalongan yang memproduksi batik?
Ada Jogja dan Solo yang tidak kalah populernya dunia perbatikan.
Ya yang gak sepakat dengan saya, tinggal abaikan saja deh Megono-nya.
Tapi....tunggu dulu, Megono adalah makanan yang terbuat dari parutan nangka muda dan kelapa, dan sepengetahuan saya keliling Indonesia, hanya ada di Pekalongan. So mari kita angkat makanan tradisional ini ke kancah dunia kuliner.....hahaha.

Tepat tadi malam pukul 22:00, kereta Argo Sindoro jurusan Jakarta - Semarang berhenti dan menurunkan penumpang di kota Pekalongan, terlambat 30 menit dari jadwal yang seharusnya. Masih oke-lah, masih dalam batas toleransi 'kemarahan' seseorang....hahaha.
Hmmm..kira-kira kenapa ya keretanya terlambat? Apakah juga kena macet?
Ternyata kereta yang saya naiki sempat berhenti cukup lama di stasiun Manggarai karena teknisi memperbaiki AC gerbong yang bermasalah. Lha kok bisa? Emang tadi sebelum kereta diberangkatkan enggak di check? Ya itulah kejadian seperti itu agaknya hanya terjadi di negeri tercinta kita ini. Hanya di Indonesia. Sorry tidak mendeskriditkan negeri ini lho, saya yakin SOP atau standard operating prosedur untuk sebuah Kereta pasti sudah dimiliki oleh perusahaan sekelas PT Kereta Api Indonesia, dan praduga saya ini lebih banyak diakibatkan karena human deffect alias kelalaian manusia. Ya kita memiliki budaya atau sikap yang saya pikir kurang baik yaitu "terlalu menggampangkan", membuat segalanya menjadi sederhana tentu berbeda dengan sikap terlalu menggampangkan. Sikap petugas yang menggampangkan yang merasa mesin yang dia anggap sudah kenal dengan dia masih dalam kondisi oke, sehingga tanpa melakukan aktivitas check list yang benar dan real, form check list sih diisi oleh petugas dan ditandatangani oleh petugas dan atasannya tapi hanya sekedar retorika hanya sekedar ngisi, bahasa kerennya "waton ngisi".
Disinilah dibutuhkan kejujuran dan keseriusan oleh semua pihak, mulai dari level bawah sampai pimpinan harus menjunjung tinggi kejujuran dan keseriusan dalam bekerja. Tentunya dengan berangkat kejujuran dan keseriusan akan menciptakan dedikasi dan integritas kerja yang tinggi. So mau perusahaan kecil, menengah atau pun besar, akan menjadi perusahaan yang berkarakter.

Itulah kiranya yang membedakan industrialisasi di Jepang dan Jerman dibandingkan di negeri tercinta ini, Indonesia. Dalam membangun industri tidak hanya sekedar mendirikan pabrik dan membuat barang/jasa/produknya, dibalik itu semua yang paling dasar dan akan menciptakan sustainability atau berkesinambungan adalah membangun manusia-nya. Dalam bahasa Jepangnya istilah itu kita kenal dengan kata 'hitozukuri' (membangun manusia) dan 'monozukuri' (menciptakan produk).
Ketika kita hanya semata-mata memikirkan produk tanpa memikirkan manusia yang didalamnya atau yang membuatnya, maka kita menyamakan manusia sebagai mesin dan kita sedang menciptakan kehancuran bagi industri tersebut. Namun ketika kita memikirkan produk disertai memikirkan manusianya maka kita sedang menciptakan sejarah dan legacy bagi industri atau produk tersebut.

Kita balik ya ke cerita saya...
Saya datang ke Pekalongan dalam tujuan menjenguk bapak saya yang sedang sakit. Mohon doanya ya.
Alhamdulillah dari tadi malam, bapak cukup terhibur dengan kedatangan saya, kata ibu biasanya bapak kalo malam tidak mau makan sehingga memang terlihat sekali bapak lebih kurus dari biasanya. Secara tidak sengaja semalam bapak terbangun  mendengar saya membuka pintu, beliau tersenyum melihat saya berdiri disampingnya. Setelah saya coba ajak cerita dan saya motivasi, alhamdulillah beliau bersedia makan.
'Bapak harus tetap semangat, bapak kan biasanya nasehatin orang untuk semangat dan tetap percaya kalo Alloh akan memberikan yang terbaik kepada kita. Nah sekarang bapak harus tetap semangat dong'. Sesekali beliau tersenyum menatap saya.
Bapak sakit dibagian saraf kaki kanannya mulai dari pangkal paha dan hingga ujung kaki sebelah kanan, ditambah beliau memang sudah cukup lama 'memiliki' DM (diabetes militus). Alhamdulillah beliau termasuk orang yang optimis sehingga meskipun 'memiliki DM beliau tetap semangat beraktivitas dan bekerja. Selain sakit tersebut, karena faktor usia beliau juga mengalami 'urine incontinence (UI)'. Sepertinya karena 'UI' itulah beliau menjadi demotivasi dan kurang semangat.
Oiya...yang mengherankan bagi saya, meskipun sekarang ini beliau sedang sakit, beliau masih juga memikirkan pasien yang sakit bahkan tetap melayani praktek dokter umum untuk mengobatinya. Subhanallah. Kami, anak-anak beliau dan ibu, sebenarnya sudah menasehati bapak untuk totali istirahat dan tidak usah praktek terlebih bapak sendiri sedang sakit, namun bapak masih berpikir kasihan pasien-pasien yang sudah menggunakan waktunya untuk datang berobat ke rumah. Akhirnya kami tidak bisa melarang bapak namun kami berpesan ke bagian pendaftaran pasien untuk membatasi jumlah pasien, agar bapak tidak terlalu lelah.

Pagi tadi, ibu dan saya mengantar bapak ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pekalongan atau sering dikenal dengan RS Keraton. Masuk ke area parkir RS ternyata penuh, akhirnya bapak dan saya yang turun dari mobil, sedangkan ibu mengemudikan mobil untuk mencari parkir diluar RS. Ibu saya termasuk wanita yang hebat dan luar biasa, meskipun usianya sudah termasuk manula namun masih bisa mengemudikan mobil jarak jauh bahkan jarak Pekalongan - Semarang ataupun Pekalongan - Temanggung masih bisa ditempuh. Ibu kurang pede kalo saya yang bawa mobil, alasan ibu cukup men-skak mart semisal permainan catur yaitu karena beliau bilang cara saya mengemudikan mobil gaya supiran orang Jakarta alias agak careless....hiks....kena deh.
Jadinya akhirnya saya yang menemani bapak mulai dari pendaftaran RS sampai mendampingi beliau bertemu dengan dokter spesialis Rehab Medik. Well, banyak hal yang mengejutkan ketika saya mendampingi bapak di RS Keraton, beberapa pegawai RS masih mengenal beliau dan hormat. Kebetulan dulu bapak terakhir berkarir menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) RSUD Kabupaten Pekalongan sebelum beliau pensiun PNS. Alhamdulillah mulai dari pendaftaran hingga bertemu dengan dokternya boleh dikata sangat cepat pelayanan RS bahkan super cepat, padahal melihat begitu banyaknya antrian ditempat pendaftaran dan poli IRM, tapi  sepertinya semua itu sudah diatur oleh Alloh Swt sehingga begitu banyak kemudahan yang diberikan kepada bapak. Alhamdulillah Ya Rabb.

Selesai dari RS Keraton, kami ke tempat makan kegemaran bapak yaitu RM Masduki, bapak tampak lebih bersemangat dan makan dengan lahap meskipun terlihat di raut wajah beliau sesekali menyeringai menahan rasa sakit di kaki kanannya.
Dilanjut pergi ke Masjid Syuhada Pekalongan untuk menunaikan ibadah sholat Jumat berjamaah karena hari ini hari Jumat. Setelah itu pulang ke rumah Wiradesa. Alhamdulillah karena saya bukan pegawai sehingga saya memiliki waktu yang bisa saya kelola sendiri termasuk suatu kepuasan tersendiri bisa mendampingi bapak berobat di Rumah Sakit. Alhamdulillah tentunya semua ini karena Alloh Swt yang telah menunjukkan hamba-Nya sehingga memilih jalur sebagai Technopreneur. Sudah sejak 4 tahun lebih yang lalu saya menjalankan bisnis dibidang Engineering, Procurement dan Contractor (EPC) spesialis Water and Wastewater Treatment. Alhamdulillah tahun ini perusahaan kami, PT Aozora Agung Perkasa, memasuki tahun keempat menuju kelima, dan sistem perusahaan sudah mulai berjalan dengan baik menurut fungsi masing-masing sehingga ketergantungan terhadap kehadiran saya di perusahaan perlahan-lahan mulai dapat digantikan oleh sistem yang berjalan. Dalam membangun perusahaan ini saya menerapkan dan memikirkan pembangunan manusianya dan penciptaan produk-produk teknologi terdepan sehingga konsep 'hitozukuri' dan 'monozukuri' kami terapkan dan gunakan dalam menjalankan usaha dengan memasukkan nilai-nilai Islam didalamnya.

Tentunya saya sangat bersyukur memiliki bapak dan ibu yang sholeh dan sholihah, beliau banyak membimbing dan mengajarkan kepada saya tentang kejujuran, tanggung jawab dan tentang keikhlasan. Semoga Alloh Swt senantiasa melindungi bapak dan ibu dan memberikan keselamatan di dunia dan akhirat. Semoga Alloh Swt mengangkat penyakit bapak dan memberikan kesembuhan. Allahumma amien.

Kali ini saya di Pekalongan hanya 2 malam dan 1 hari, sehingga insya Alloh besok pagi saya melanjutkan perjalanan kembali ke kota Jakarta (baca Cibubur).

Semoga bermanfaat dan selamat malam. 

Assalamualaikum wr.wb.

(Tulisan ini dibuat pagi hari awalnya trus karena aktivitas seharian ini baru sempat melanjutkannya malam hari ini sehingga kata penutupnya malam).


Rabu, 27 November 2013

STOP KRIMINALISASI TERHADAP DOKTER INDONESIA DI INDONESIA

Hari ini sepertinya hari yang begitu bersejarah bagi dokter-dokter Indonesia di Indonesia....
Mereka melakukan aksi solidaritas terhadap rekan sejawatnya yang 'diduga' mengalami bulying oleh hukum di Indonesia atau bahasa kerennya di kriminalisasikan.
Oleh karenanya hari ini hampir di seluruh Indonesia, dokter-dokter Indonesia di Indonesia menolak tindakan kriminalisasi terhadap dokter Indonesia di Indonesia.
Saya menurunkan tulisan ini bukan membahas dari pandangan hukum ataupun politis, terlebih tulisan ini mencoba menceritakan bagaimana kehidupan dokter Indonesia di Indonesia langsung dari TKP....hehehe.
Ya, syukur alhamdulillah ayah saya berprofesi sebagai dokter umum Indonesia di Indonesia, dan istri saya berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan Indonesia di Indonesia.
Sepertinya ada yang janggal ya dari tulisan saya dari awal paragraf, kenapa saya menyebutkan 'dokter Indonesia di Indonesia'?
Ini untuk menunjukkan identitas asal dokter tersebut yaitu dari lulusan Fakultas Kedokteran Universitas di Indonesia dan dokter tersebut bekerja/dinas di wilayah teritori Indonesia. Tentunya hal ini akan sedikit membedakan antara dokter bukan berasal dari Universitas di Indonesia alias lulusan Luar Negeri gitu lho yang bekerja/dinas di wilayah teritori Indonesia.
Insya Alloh tulisan ini tidak bermaksud mendeskriditkan siapa pun.

Ayah saya adalah seorang dokter umum Indonesia yang mengawali karirnya di Puskesmas desa Paninggaran, selanjutnya di Puskesmas desa Kesesi, kabupaten Pekalongan. Setiap hari dari pagi sampai sore bekerja di Puskesmas, dan terkadang kalo bapak tidak capek sore hingga malam praktik di rumah. Seringkali rumah kami diketuk orang tengah malam, karena mau berobat. Saya ingat sekali kehidupan seperti itu terjadi di tahun 1980-an. Tak jarang ada orang yang memanggil bapak untuk mengobati pasien di rumah pasien yang letaknya di 'ujung dunia', untuk mencapainya pun penuh dengan perjuangan, naik sepeda ontel, nyebrang sungai, belum lagi tahun segitu belum ada listrik, sehingga kemana-mana bawa baterai senter atau lampu kapal. Ditambah lagi ketemu dengan ular di jalan, karena jalanan masih bebatuan dan dikanan kiri masih banyak semak belukar. Serem rasanya. Tapi bapak begitu ikhlasnya menolong orang/mengobati orang bahkan tak jarang pulang ke rumah tidak membawa upah hasil mengobati orang tapi bawa jagung atau beras atau buah-buahan atau kelapa. Saya sangat kagum dengan beliau yang alhamdulillah sampai sekarang beliau masih semangat untuk mengobati orang. Kami sebagai bagian keluarganya hanya bisa mensupport dan mendoakannya bahkan kadang kami berusaha melarang bapak untuk berangkat ke pelosok kalo medannya sulit, namun bapak tidak pernah menolak untuk menolong/mengobati orang karena alasan beliau simpel, kasihan orang yang sudah menjemput dia jauh-jauh ke sini. Kami tidak bisa melarang beliau untuk pergi.
Di rumah, Ibu, kakak2 saya dan saya hanya bisa merelakan keberangkatan bapak dan mendoakannya. Luar biasa pengabdian beliau untuk dunia kesehatan. Saya rasa tidak ada profesi lain yang begitu mulianya seperti ini. Saya sekarang ini merasakan perjuangan yang saya lakukan belum apa-apa dibandingkan dengan profesi yang bapak jalani. Tidak kenal lelah, letih dan tidak kenal waktu bahkan waktu untuk keluarganya harus dinomorduakan demi menolong/mengobati orang. Saya tidak yakin kalo saya disuruh menjalani seperti yang bapak lakukan, bakalan sanggup. Apalagi pengacara dan jaksa, kayaknya gak mungkin mereka mau tinggal didaerah yang sedemikian tertinggalnya. Hehehe. Sorry ya yang profesi pengacara dan jaksa silakan tersinggung. Bukan apa-apa karena saya pun punya bukti yaitu saudara ipar bapak saya ada yang profesinya jaksa dan beliau mantan Kajati lho, jadi bukan main-main. Dia sendiri yang memuji bapak saya sedemikian hebatnya karena dia gak bakalan mau menjalani seperti itu. Hehehe.
Kita lanjut ya.....
Waktu libur hari minggu dan hari besar, saya dan kakak2 termasuk yang paling cemas karena seringkali acara bepergian sekeluarga batal total karena bapak harus menolong orang di ujung desa. Kata bapak, setiap pekerjaan ada konsekuensinya dan keluarga bapak pun harus rela menanggung konsekuensi-konsekuensi dari profesi bapak termasuk sulit sekali liburan bareng bapak.
Semua waktunya beliau darmabaktikan untuk menolong orang lain meskipun terkadang tidak dibayar.
Kira-kira kebayang bukan profesi dokter di daerah terpencil seperti apa? Kami baru di daerah pelosok di Jawa Tengah (sekarang Kesesi sudah maju) sudah 'menderita', apalagi para dokter yang berjuang di pulau-pulau terpencil. Dan gaji bapak pun sering dibayarkan telat oleh negara ini bahkan kadang di rapel, nah kira-kira profesi mana yang mau di'begini'kan sama negara? Tapi bapak dan teman-teman bapak tidak pernah mengeluh. Beliau-beliau ini adalah dokter-dokter dan para medis yang hebat. Yang kebangeten itu ya yang ngegaji para dokter dengan sering telat udah itu dibawah angka hidup layak (saya pinjam istilah dari UMP ya). Coba deh kalo dibalik situasinya, kira-kira mau atau tidak?
Itulah secuil cerita tentang dokter Indonesia di Indonesia, oiya bapak saya merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.
Kira-kira dokter-dokter lulusan Luar Negeri atau asing, mau gak ya menjalani profesinya seperti yang dijalani bapak saya?
Kayaknya kok gak mungkin ya.....hehehe. Jangan tersinggung ya, yang ini saya juga punya bukti yaitu saya sendiri. Gini-gini saya lulusan terbaik dari Department of Chemical Engineering, Nagoya University, Japan lho. Meskipun saya bukan dokter, namun dengan alasan saya gak mau menjalani kehidupan profesi di pelosok/daerah tertinggal, makanya saya sekolah di Luar Negeri. Mentalitas lulusan luar negeri berbeda dengan lulusan Indonesia, sekolah di luar negeri begitu nyaman. Laboratorium lengkap, peralatan komplit, penelitian tinggal jalanin. Lulusan Indonesia harus mikir dan kreatif dengan peralatan seadanya harus nge-Lab dan penelitian. Sekarang ini saya ini termasuk kena penyakit syndrome Luar Negeri, kerasa banget ketika menjalani program Doktor/S3 saya di UI, progress riset gak maju-maju alias mandeg ditambah dua Professor Promotor dan Co-promotor udah kesel saja sama saya kayaknya. Hehehe.
Saya acungin jempol buat para lulusan Indonesia yang hebat-hebat dengan segala keterbatasan fasilitas tapi bisa ditambah tempat bekerja yang penuh heroik seperti tempat bekerja bapak saya.

Bagaimana dengan profesi istri saya?
Istri saya merupakan lulusan fakultas kedokteran Universitas Indonesia dan menyelesaikan spesialisasi kandungan juga di FKUI. Lulus dokter, dia bekerja di RS Pertamina Dumai, hanya satu tahun terus lanjut spesialis kandungan. Sekarang praktek di daerah Depok dan Cibubur. Kehidupan yang kami jalani meskipun kami tidak tinggal di desa seperti bapak saya, namun penuh dengan heroik dan perjuangan juga. Tak jarang tengah malam disaat-saat kita sedang tidur nyenyak, istri saya dibangunkan oleh suara dering telpon dari rumah sakit karena ada persalinan yang harus dia tolong.
Kadang sehari bisa kerjaannya cuman nungguin orang mau bersalin dan nolong persalinan. Dan tentunya keluarganya dibuatnya BETE. Acara-acara bepergian bareng sekeluarga sering kena interupsi karena nolong orang. Awal-awal saya sempat protes kalo tengah malam istri harus berangkat ke rumah sakit, 'kenapa gak suruh dokter lain aja yang nolong', istri saya menjelaskannya dengan terisak-isak karena merasa saya gak ikhlas mengijinkan dia pergi 'pasien ini tanggung jawab dia, gak boleh sembarangan lempar ke dokter lain, kita harus menghormati pasien dan keluarganya'. Akhirnya saya ikhlaskan, dan sekarang kami sudah terbiasa. Tak jarang anak-anak kami protes karena sang bunda pergi menolong persalinan, akhirnya saya jelaskan dan saya ajak anak-anak jalan-jalan. Bahkan baru-baru ini saya jalan hanya dengan dua anak saya (dua-duanya cowok) untuk liburan ke Jogja, ke Magelang trus ke Pekalongan. Sering terdengar omongan disekeliling, 'ih kasihan banget si bapak itu ngurusin anak dua, istrinya kemana tuh', tapi saya sudah cuek karena semua itu adalah konsekuensi atas pilihan yang saya pilih. Istri saya berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan dan sudah seharusnya sikap saya sebagai suami mensupport dia dan mengayomi anak-anak disaat sang bunda sedang bertugas.

Saya rasa banyak berita-berita miring tentang profesi dokter ini karena mereka tidak tahu dan mereka tidak pernah menjalaninya bahkan mungkin terlibat menjadi salah satu bagian keluarganya juga tidak.
Pekerjaan mereka sangat berisiko karena menyangkut keselamatan seseorang/nyawa orang namun harus disadari oleh semua pihak bahwa urusan nyawa adalah hak prerogatif Alloh Swt. Itulah yang namanya qodho dan qodhar. Kita mengimani qodho dan qodhar, tapi ketika kita ditimpa musibah kehilangan anggota keluarga kita menyalahkan orang lain yang memang diluar kuasanya bahkan menyalahkan Alloh Swt. Naudzubillah min dzalik.
Lihat lagi diri ini betapa kecilnya kita dan betapa tidak kuasanya kita, karena semua ini adalah milik Alloh Swt.
Tentunya tidak ada niatan dari para dokter untuk 'membunuh' pasien, lagi-lagi soal kematian adalah hak prerogatif Alloh Swt. Ada banyak jalan dan banyak cara untuk mati dan yang tahu hanyalah Alloh Swt bagaimana cara kita nanti menghadap-Nya.

Kalau kita mengimani kitab-kitab Alloh Swt, bahkan telah ditunjukkan oleh Alloh Swt melalui nabi Isa a.s. tentang pengobatan terhadap orang yang sakit demikian juga banyak dalil-dalil yang menerangkan bagaimana Rosullullah SAW mengobati orang sakit, sehingga tentunya profesi dokter/medis yang mengobati orang yang sakit adalah profesi yang dimuliakan di mata Alloh Swt.

Semoga tulisan ini menjadi ibroh dan bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

"STOP KRIMINALISASI DOKTER INDONESIA DI INDONESIA"




Selasa, 26 November 2013

Menjadi Perusahaan Yang Barokah dan Rizki Melimpah Halalan Thoyiban (Bagian Kedua)

Memilih jalan/arus sebagai Merchant/Pedagang, Entrepreneur atau Technopreneur adalah pilihan kita masing-masing. Dan tentunya tiap pilihan ada tanggungjawab dan konsekuensi yang harus kita emban.
Benang merah dari tiga arus bisnis tersebut adalah adanya transaksi antara penjual dan pembeli.

Allah ta’ala berfirman,
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“… padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al Baqarah: 275)

Oleh karenanya seharusnya kita yang akan memasuki dunia bisnis ataupun yang telah berada di dunia bisnis, sebaiknya mempelajari, mengerti dan paham tentang adab-adab jual beli, agar bisnis kita menjadi barokah.

Seseorang yang menggeluti praktek jual beli wajib memperhatikan syarat-syarat sah praktek jual beli agar dapat melaksanakannya sesuai dengan batasan-batasan syari’at dan tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang diharamkan.

Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

لَا يَبِعْ فِيْ سُوْقِنَا إِلاَّ مَنْ يَفْقَهُ، وَإِلِا أَكَلَ الرِّباَ
“Yang boleh berjualan di pasar kami ini hanyalah orang-orang yang faqih (paham akan ilmu agama), karena jika tidak, maka dia akan menerjang riba.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, profesi apakah yang paling baik? Maka beliau menjawab, bahwa profesi terbaik yang dikerjakan oleh manusia adalah segala pekerjaan yang dilakukan dengan kedua tangannya dan transaksi jual beli yang dilakukannya tanpa melanggar batasan-batasan syariat. (Hadits shahih dengan banyaknya riwayat, diriwayatkan Al Bazzzar 2/83, Hakim 2/10; dinukil dari Taudhihul Ahkam 4/218-219).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama beratnya dan langsung diserahterimakan. Apabila berlainan jenis, maka juallah sesuka kalian namun harus langsung diserahterimakan/secara kontan” (HR. Muslim: 2970)

Kebutuhan kita sebagai manusia menuntut adanya jual beli, karena seseorang sangat membutuhkan sesuatu yang dimiliki orang lain baik, itu berupa barang, jasa atau uang, dan hal itu dapat diperoleh setelah menyerahkan timbal balik berupa kompensasi. Dengan demikian, terkandung hikmah dalam pensyariatan jual beli bagi manusia, yaitu sebagai sarana demi tercapainya suatu keinginan yang diharapkan oleh manusia (Al Mulakhos Al Fiqhy, 2/8).

Kondisi saat ini terkadang menyedihkan, dalam praktek jual beli meremehkan batasan-batasan syariat, sehingga sebagian besar praktek jual beli yang terjadi di masyarakat adalah transaksi yang dipenuhi berbagai unsur penipuan, keculasan dan kezaliman.

Lalai terhadap ajaran agama, sedikitnya rasa takut kepada Allah SWT merupakan sebab yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut, tidak tanggung-tanggung berbagai upaya ditempuh agar keuntungan dapat diraih, bahkan dengan melekatkan label syar’i pada praktek perniagaan yang sedang marak belakangan ini walaupun pada hakikatnya yang mereka lakukan itu adalah transaksi ribawi.

Jika kita memperhatikan praktek jual beli yang dilakukan para pedagang saat ini, mungkin kita dapat menarik satu konklusi, bahwa sebagian besar para pedagang dengan “ringan tangan” menipu para pembeli demi meraih keuntungan yang diinginkannya, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ هُمْ الْفُجَّارُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ قَالَ بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ

“Sesungguhnya para pedagang itu adalah kaum yang fajir (suka berbuat maksiat), para sahabat heran dan bertanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan praktek jual beli, wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Benar, namun para pedagang itu tatkala menjajakan barang dagangannya, mereka bercerita tentang dagangannya kemudian berdusta, mereka bersumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan keji.” (Musnad Imam Ahmad 31/110, dinukil dari Maktabah Asy Syamilah; Hakim berkata: “Sanadnya shahih”, dan beliau disepakati Adz Dzahabi, Al Albani berkata, “Sanad hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua”, lihat Silsilah Ash Shahihah 1/365; dinukil dari Maktabah Asy Syamilah).

Pertama, persyaratan yang berkaitan dengan pelaku praktek jual beli, baik penjual maupun pembeli, yaitu:
  • Hendaknya kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela, tanpa ada paksaan. Allah ta’ala berfirman: 

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

    “… janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang timbul dari kerelaan di antara kalian…” (QS. An-Nisaa’: 29)

Kedua, yang berkaitan dengan objek/barang yang diperjualbelikan, syarat-syaratnya yaitu:
  • Objek jual beli (baik berupa barang jualan atau harganya/uang) merupakan barang yang suci dan bermanfaat, bukan barang najis atau barang yang haram, karena barang yang secara dzatnya haram terlarang untuk diperjualbelikan.
  • Objek jual beli merupakan hak milik penuh, seseorang bisa menjual barang yang bukan miliknya apabila mendapat izin dari pemilik barang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  • لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

    “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Dawud 3503, Tirmidzi 1232, An Nasaa’i VII/289, Ibnu Majah 2187, Ahmad III/402 dan 434; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly).

    Seseorang diperbolehkan melakukan transaksi terhadap barang yang bukan miliknya dengan syarat pemilik memberi izin atau rida terhadap apa yang dilakukannya, karena yang menjadi tolok ukur dalam perkara muamalah adalah rida pemilik. (Lihat Fiqh wa Fatawal Buyu’ hal. 24). Hal ini ditunjukkan oleh persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan Urwah tatkala beliau memerintahkannya untuk membeli kambing buat beliau. (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642)
  • Objek jual beli dan jumlah pembayarannya diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak sehingga terhindar dari gharar. Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli hashaath (jual beli dengan menggunakan kerikil yang dilemparkan untuk menentukan barang yang akan dijual) dan jual beli gharar.” (HR. Muslim: 1513)
    Selain itu, tidak diperkenankan seseorang menyembunyikan cacat/aib suatu barang ketika melakukan jual beli. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ

    “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang muslim menjual barang dagangan yang memiliki cacat kepada saudaranya sesama muslim, melainkan ia harus menjelaskan cacat itu kepadanya” (HR. Ibnu Majah nomor 2246, Ahmad IV/158, Hakim II/8, Baihaqi V/320; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali)
    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

    مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا ، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

    “Barang siapa yang berlaku curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami. Perbuatan makar dan tipu daya tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 567, Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir 10234, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah IV/189; dihasankan Syaikh Salim Al Hilaly)

Ketiga, Jual Beli Bukanlah Riba
Sebagian orang beranggapan bahwa jual beli tidaklah berbeda dengan riba, anggapan mereka ini dilandasi kenyataan bahwa terkadang para pedagang mengambil keuntungan yang sangat besar dari pembeli. Atas dasar inilah mereka menyamakan antara jual beli dan riba. Alasan ini sangat keliru, Allah ta’ala telah menampik anggapan seperti ini. Allah ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

Tidak ada pembatasan keuntungan tertentu sehingga diharamkan untuk mengambil keuntungan yang lebih dari harga pasar, akan tetapi semua itu tergantung pada hukum permintaan dan penawaran, tanpa menghilangkan sikap santun dan toleran (disadur dari Fikih Ekonomi Keuangan Islam, hal. 87 dengan beberapa penyesuaian). Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui tatkala sahabatnya Urwah mengambil keuntungan dua kali lipat dari harga pasar tatkala diperintah untuk membeli seekor kambing buat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642)

Namun, yang patut dicermati bahwa sikap yang lebih sesuai adalah memberikan kemudahan, santun dan puas terhadap keuntungan yang sedikit sehingga hal ini akan membawa keberkahan dalam usaha. Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Hai para pedagang, ambillah hak kalian, kalian akan selamat. Jangan kalian tolak kentungan yang sedikit, karena kalian bisa terhalangi mendapatkan keuntungan yang besar.”

Adapun seseorang yang merasa tertipu karena penjual mendapatkan keuntungan dengan menaikkan harga di luar batas kewajaran, maka syariat kita membolehkan pembeli untuk menuntut haknya dengan mengambil kembali uang yang telah dibayarkan dan mengembalikan barang tersebut kepada penjual, inilah yang dinamakan dengan khiyarul gabn bisa dilihat pada pembahasan berbagai jenis khiyar.
Tentunya dasar hukum diatas tidak menjadikan niatan kita menjadi ciut untuk memasuki dunia bisnis baik menjadi Pedagang/Merchant, Entrepreneur ataupun Technopreneur, justru dengan kita tahu dasar hukum fiqih jual beli (muamalah) menjadikan kita berhati-hati serta bersungguh-sungguh untuk mendapatkan ridhlo dari Allah SWT dan mengharapkan keberkahan/barokah-Nya. Wallahualam bishowab.

Semoga bermanfaat.

(Disarikan dari berbagai sumber, diantaranya www.muslim.or.id)



Senin, 25 November 2013

Menjadi Perusahaan Yang Barokah dan Rizki Melimpah Halalan Thoyiban (Bagian Pertama)

Perjalanan waktu seminggu yang lalu, alhamdulillah menorehkan beberapa kenangan yang indah.
Berbagi dan berbagi.....pesan itu yang dapat saya simpulkan.
Bersyukur dan bersyukur kepada Alloh......perasaan itu yang muncul.
Belajar dan terus belajar......motivasi itu yang hadir.

Diawali dengan hari minggu yang lalu tepatnya tanggal 17 November 2013, saya diundang untuk menjadi pembicara dalam acara Edu Career Day Chemical Engineering Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Disitulah saya berbagi atau sharing bagaimana saya memulai bisnis PT Aozora Agung Perkasa, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Engineering, Procurement & Construction (EPC) spesialis di bidang Water dan Wastewater Treatment. Saya membawakan materi tentang Technopreneurship in Chemical Engineering. Negeri ini, Indonesia tercinta, membutuhkan jutaan Technopreneur tidak sekedar Entrepreneur.
Menjadi Entrepreneur saja susah, apalagi 'lompat' ke Technopreneur.
Lantas apa beda Entrepreneur dan Technopreneur?
Jelas beda, yang pertama diawali dengan kata Entre, dan yang kedua diawali dengan kata Techno....hahaha.
Yuk kita tengok apa kata Wikipedia.....
Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Trus kalo Technopreneur, kira-kira apa ya kata Wikipedia...
Ooops...ternyata tidak diketemukan kata Technopreneur di Wikipedia, alias gak ke daftar.
Coba kita track lagi di google, dan kita temukan di Merriam-Webster Dictionary....
Technopreneur ia an entrepreneur involved with high technology.
Kata Technopreneur berasal dari gabungan dua kata idiom:
Techno + entrepreneur
Dan pertama kali kata Technopreneur digunakan pada tahun 1987.
Apa iya jadi Entrepreneur itu susah?
Bagi yang pernah merasakan bagaimana men-switch/mentransformasi kehidupan kita dari yang semula employee menjadi entrepreneur, pasti sepakat bahwa menjadi Entrepreneur adalah susah. Namun begitu kita sudah menjalaninya dan berada didalam dunianya, maka semua terasa terang benderang. 
Kemampuan berdagang dan entrepreneur memiliki aktivitas yang sama yaitu sama-sama jualan namun untuk entrepreneur selalu berusaha 'create something different and new'. Gairah untuk create something different and new inilah yang tidak dimiliki oleh orang yang berdagang, kalo dia memiliki desire seperti itu artinya dia sudah pindah stream ke stream entrepreneur.
Hmm...kira-kira apa arti 'pedagang' menurut Wikipedia...
Pedagang adalah orang yang melakukan perdagangan, memperjualbelikan barang yang tidak diproduksi sendiri, untuk memperoleh suatu keuntungan. Pedagang dapat dikategorikan menjadi:
  1. Pedagang grosir, beroperasi dalam rantai distribusi antara produsen dan pedagang eceran.
  2. Pedagang eceran, disebut juga pengecer, menjual produk komoditas langsung ke konsumen. Pemilik toko atau warung adalah pengecer.
So jelas bukan, Pedagang punya keyword yang jelas yaitu jual-beli, tidak memproduksi dan untuk suatu keuntungan/profit. Sedangkan baik Entrepreneur dan Technopreneur memiliki keyword visi, ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik, penciptaan usaha baru atau disingkat create something different and new.

Ketiganya baik merchant, entrepreneur dan technopreneur, sama-sama komponen penting dalam dunia bisnis secara makro dan mikro. Sehingga saya menamakan ketiganya sebagai Three Business Stream (Tiga Arus Bisnis). Sangat penting untuk kita ketahui bersama Three Business Stream agar kita tahu kita berada di arus yang mana sehingga diharapkan kita dapat merumuskan How To untuk kemajuan bisnis kita masing-masing.
Ataupun bagi yang masih employee yang ingin memulai bisnis juga bisa menjadi wacana/gambaran dia akan masuk ke arus mana dan tentunya masing-masing arus bisnis memiliki konsekuensi tertentu. 

Insya Alloh saya akan melanjutkan tulisan ini dalam beberapa bagian dan membaginya ke pembaca blog ini. 
Tentunya tulisan ini jauh dari sempurna dan banyak kekurangannya. Apabila benar tentunya itu milik Alloh Swt dan jika salah tentu datangnya dari saya yang masih dangkal ilmunya dan masih harus banyak belajar.
Semoga bermanfaat.



 

Jumat, 08 November 2013

Alhamdulillah di terminal waktu 36 tahun (8.11.77 ~ 8.11.13). Luruskan Niat Sempurnakan Ikhtiar

Itulah kalimat tagline yang saya luncurkan disemua perangkat gadget dan social media yang saya miliki.

Selamat Pagi Semua. Salam dari Kota Gudeg Jogjakarta.
Lho kok kota Jogja? Sejak kapan pindah di Jogja?
Hmm....tidak kok....saya tidak pindah kota....saya masih tinggal di Kota tercinta sebelah Kota Jakarta :)....masih di Cibubur, Bogor.
Hanya saja kemarin malam saya harus travelling ke Jogjakarta untuk sebuah urusan yang sangat penting yaitu menghadiri undangan dari kampus almamater Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta yang diadakan  pada pagi hari ini bertepatan dengan tanggal 8 November 2013,
Rapat Advisory Board (Dewan Penasehat) Jurusan Teknik Kimia UGM.

Baru satu tahun yang lalu, 2012, Jurusan Teknik Kimia UGM memiliki satu badan adhoc yang dinamakan Dewan Penasehat/Advisory Board. Alhamdulillah saya ditunjuk untuk duduk sebagai salah satu Dewan Penasehat bersama dengan para senior dan sesepuh Teknik Kimia Indonesia. Merupakan kehormatan bagi saya sekaligus komitmen dan amanah yang berat. Ditengah-tengah aktivitas saya, sebagai pewirausaha yang menjalankan bisnis Engineering & Contractor PT Aozora Agung Perkasa yang sekaligus juga saya berstatus sebagai mahasiswa program Doktor Teknik Kimia Universitas Indonesia, dan sebagai ayah dari 3 orang putra yang lucu-lucu trio Faiz Zayyaan Ayyubi. Selain itu juga sebagai Sekretaris Alumni Nagoya University Jepang, sekretaris Alumni Penerima Beasiswa Panasonic, Think Thank Persada Strategic Center dan aktivitas lainnya di komunitas bisnis networking Indonesia-Jepang, dan di komunitas DKM Masjid Al Ihsan. Alhamdulillah saya masih bisa beraktivitas dengan semua kepadatan aktivitas tersebut, semoga Alloh Swt memudahkan langkah saya dan meringankannya serta memberikan hati yang tawadhlu dalam menjalankannya.

Hari ini saya berada di terminal waktu 36 tahun, Alhamdulillah dan tak ada kata lain yang dapat terucap dari mulut ini selain syukur alhamdulillah dan kalimat istighfar astaghfirullah hal adzim.
Perjalanan waktu menuju terminal 36 tahun atau disingkat Terminal 36 telah menguatkan saya untuk terus meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar.
Pencapaian demi pencapaian sedikit demi sedikit mulai ditunjukkan oleh Alloh Swt dengan indah dan penuh kemantapan.
Meneguhkan hati untuk terus bermunajat menyebut asma-Mu Ya Alloh.....bersyukur....beristighfar.
Apakah saya sudah memberikan warna baik yang ikut mewarnai lingkungan saya? Wallahualam.
Semoga titik terminal yang telah saya lewati dan sekarang berada di terminal 36 adalah terminal waktu yang baik. Aamiin.
Sesungguhnya saya hanyalah butiran air ditengah samudra yang begitu luas.....
Sesungguhnya saya hanyakah butiran debu ditengah padang pasir yang membentang......
Terima kasih Ya Alloh.....
Terima kasih Ya Rosulullah SAW.....
Terima kasih Ibuku sayang....
Terima kasih Bapak....
Terima kasih Istriku sayang...
Terima kasih Anak-anakku sayang....
Terima kasih Para Guru...
Terima kasih Para Dosen...
Terima kasih Keluarga Besar PT Aozora Agung Perkasa......
Terima kasih kepada orang-orang yang telah mengajari saya....
Terima kasih kepada semua pembaca blog ini....
Terima kasih semuanya.....
Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Alloh Swt.....
Mari kita luruskan selalu niat kita menjalani hidup dan beraktivitas di dunia ini semata-mata karna Alloh karna cinta Alloh dan cinta Rosullullah SAW...sehingga segalanya akan indah pada waktunya....insya Alloh...
Mari kita sempurnakan ikhtiar dan terus meningkatkan kualitas diri untuk selalu berprestasi dan berprestasi....berlomba-lomba menjadi yang terbaik hingga mencapai derajat khusnul khotimah dipenghujung kehidupan kita nanti....insya Alloh....
Pencapaian atau kesuksesan yang tertinggi adalah ketika kita bisa berakhir dengan khusnul khotimah.....
Maka teruslah berikhtiar mencapai prestasi seakan-akan kita akan hidup selamanya....
Dan bersujud dan berdoalah untuk mendapatkan khusnul khotimah seakan-akan kita akan dijemput sekarang.....

Demi Masa....
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(terjemahan Q.S. Al Ashr 1~3)

Semoga bermanfaat....


Jogjakarta, 8 November 2013/4 Muharam 1435 H

Sabtu, 07 Juli 2012

Refleksi : Kehilangan = Peringatan agar tidak menunda bersedekah

Kejadian kehilangan/kerampokan sejumlah uang yang saya alami di Singapore dua hari yang lalu, saya ceritakan ke Ari, manager keuangan perusahaan saya, PT Aozora Agung Perkasa (www.aozora-aap.com).
Tujuan saya memanggil manager keuangan adalah karena ingin memastikan ada tidaknya hak-hak orang lain khususnya hak anak yatim yang belum kami tunaikan. Kejadian kehilangan sejumlah uang ini bukanlah yang pertama mungkin ini yang ketiga dan belajar dari kejadian sebelumnya hal ini berhubungan erat dengan lupa/alpanya kami dalam menunaikan hak orang lain khususnya anak yatim.

Dan ternyata.....benar....jumlah uang saya yang dirampok di Singapore sama nilainya dengan kewajiban yang harus kami tunaikan atas hak-hak anak yatim. Astaghfirullah. Allahu Akbar. Langsung saya instruksikan mengeluarkan sedekah untuk anak yatim. Ada rasa bersalah yang sangat besar karena kami sampai lupa akan hak anak yatim dikarenakan kesibukan kami yang begitu banyak dengan adaya project-project paralel yang harus dikerjakan secara bersamaan. Apapun alasannya semua itu tidak bisa diterima menurut saya, karena seharusnya saya sebagai pimpinan perusahaan selalu ingat terlebih dahulu soal hak anak yatim sementara staf yang lain bisa saja lupa karena kesibukannya.

Pagi itu juga sekitar pukul 11 pagi langsung saya meetingkan dengan partner bisnis saya, mas Henri Prakoso, saya sampaikan permintaan maaf saya sebagai pimpinan perusahaan telah menomorduakan hak anak yatim. Astaghfirullah. Kejadian ini bukanlah yang pertama seperti yang saya sampaikan diatas, sebelumnya saya kehilangan uang 20 juta rupiah karena kasus penipuan investasi oleh sahabat dan sekaligus tetangga saya.
Kejadian berikutnya juga kami ditipu oleh sahabat kami sejumlah uang 15 juta rupiah atas pembelian barang yang dimark-up. Astaghfirullah.

Alhamdulillah setiap kejadian buruk yang menimpa kami, semaksimal mungkin kami kembalikan segala sesuatunya kepada Allah SWT, karena kami yakin apa yang terjadi atas diri kami juga karena ijin-Nya dan pasti ada hikmah dan ada pesan yang ingin Allah SWT sampaikan kepada kami. Alhamdulillah kami sangat bersyukur dengan kejadian saya yang terakhir karena Allh SWT menyayangi kami dengan mengingatkan kami melalui kejadian tsb. Alhamdulillah. Hal ini menjadi refleksi bagi kami dan pijakan kuat untuk tidak menunda bersedekah karena belajar dari kejadian kami, kehilangan yang ada sebagai akibat dari perbuatan kami yang tidak sengaja menunda bersedekah.

Karena kesibukan kamilah sehingga penunaian atas hak orang lain menjadi tertunda dan ini sangat tidak dibenarkan. Allah SWT telah memberi peringatan kepada kami untuk ketiga kalinya, dan mudah-mudahan dengan kami share di blog ini, saya menjadi ingat untuk selalu mengutamakan hak anak yatim khususnya diawal waktu sebelum kami memulai kesibukan bisnis/pekerjaan. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kami bagi diri saya sendiri dan bagi perjalanan perusahaan kami, semoga hal ini pun dapat diambil pelajarannya bagi siapa pun yang membaca blog ini.

Karena ini sudah kejadian yang ketiga bagi kami, sehingga kami pun memutuskan untuk menunjuk satu staf kami khusus untuk mengingatkan kami dan mengurus pengelolaan dana hak anak yatim agar kami tidak lupa dan manager keuangan juga tidak lupa karena kesibukannya. Aamiin.

Kami memiliki prinsip yaitu kami ingin mengawali dan menjalankan bisnis PT Aozora Agung Perkasa dengan mengharapkan keridhloan Allah SWT sehingga meskipun kami masih 'tumbuh dan belajar menjadi besar', kami ingin menjaga kebersihan harta kami dengan menunaikan hak-hak anak yatim sejak dari awal kami berdiri 3 tahun yang lalu tepatnya 6 Juli 2009.

Saya ingin mengucapkan:

Selamat Ulang Tahun ke-3 PT Aozora Agung Perkasa 
6 Juli 2009 - 6 Juli 2012

Semoga keberkahan, ridhlo Allah dan kesuksesan senantiasa mengiringi langkah keluarga besar PT Aozora Agung Perkasa. Kami bukanlah apa-apa dan siapa-siapa, kami adalah sang pemimpi yang ingin mewujudkan mimpi-mimpi besar kami dengan berusaha keras dan bekerja keras serta dengan jalan sedekah.
Kami ingin menjadi bagian dari kebangkitan dunia menuju tatanan yang lebih baik, jujur serta dijauhkan dari hal-hal yang bersifat ribawi. Meskipun saat ini kami masih belajar meninggalkan ribawi, namun kami memiliki keyakinan suatu saat nanti kami bisa bebas dari ribawi. Aamiin.

Bulan ini adalah bulan Sya'ban, tak lama lagi kita akan memasuki bulan yang penuh rahmat yaitu bulan Ramadhon. Perkenankan saya selaku pribadi dan pimpinan perusahaan PT Aozora Agung Perkasa mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekhilafan kami dan perusahaan kami. Insya Allah kita memasuki bulan Ramadhon dengan tulus ikhlas dan diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa dan ibadah khusus Ramadhon lainnya dengan penuh semangat. Aamiin.

Selamat berakhir pekan. Semoga bermanfaat dan menjadi ladang ilmu bagi kami sendiri khususnya dan pembaca blog ini. Aamiin. Ayuuk bersedekah.

Terima kasih. Alhamdulillah.